Pages

Kamis, 22 Maret 2012

(Kartulku) "POROS JABAT"


POROS JAKARTA-RABAT
RELEVANSI HUBUNGAN AKH SYAQIQ

Akh Syaqiq atau saudara kandung merupakan julukan Negeri Khatulistiwa, Indonesia dari Negeri Seribu Benteng, Maroko. Ini bukan sekedar julukan yang diberikan tanpa alasan, Indonesia dan Maroko memiliki hubungan emosional bak saudara kandung yang telah terbina bukan hanya sejak 51 tahun lalu ketika secara resmi kedua negara menyepakati hubungan diplomasi, tetapi hubungan itu bahkan telah dimulai sejak abad 14 masehi ketika Ibnu Battutah datang ke Indonesia dalam misi menyebarkan agama Islam yang kini mayoritas penduduk kedua negara telah memeluknya. Kesamaan sejarah kedua negara yang pernah dijajah oleh bangsa Barat, peran serta Indonesia dalam memberikan dukungan moril yang besar bagi kemerdekaan Maroko serta berbagai kesamaan pendapat dan sikap terhadap isu regional dan internasional telah menciptakan romantisme yang kuat diantara kedua negara. Berbagai bentuk kerjasama pun telah berlangsung dalam tempo lebih dari setengah abad lamanya, namun harus diakui bahwa potensi kerjasama kedua negara yang begitu besar belum mampu dimaksimalkan oleh kedua negara, terutama Indonesia, padahal pemerintah dan pihak kerajaan Maroko telah membuka lebar segala bentuk peluang kerjasama yang lebih jauh untuk Indonesia sebagai bentuk penghargaan negaranya terhadap keterikatan sejarah kedua negara.
Jarak antara kedua negara yang melebihi sekitar sepertiga lingkaran dunia terbukti tidak menghalangi kerjasama yang telah berlangsung selama ini. Namun, yang menjadi salah satu penyebab tidak maksimalnya kerjasama antara Indonesia dan Maroko adalah karena kurangnya people to people contacts antara rakyat kedua negara sehingga perlu adanya upaya restrukturisasi pola hubungan antara rakyat keduanya yang selama ini masih cenderung stagnan dan tidak ada kemajuan yang signifikan. Salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah dengan membentuk Poros Jakarta-Rabat (Poros JABAT) sebagai relevansi hubungan persaudaraan antara kedua negara ini.
Poros Jakarta-Rabat merupakan sebuah konsep kerjasama yang bertujuan untuk lebih membuka peluang interaksi antara rakyat kedua negara secara langsung sehingga mereka dapat saling mengenal lebih jauh dan lebih memahami satu sama lain. Konsep ini akan membentuk sentralisasi interaksi antar rakyat yang kemudian nantinya menyebar ke berbagai daerah dengan pola yang lebih terintegrasi. Dengan hubungan yang lebih erat, ditambah dengan keterikatan sejarah dan nilai-nilai agama yang sama yang dianut oleh rakyat kedua negara maka berbagai bentuk kerjasama di berbagai bidang akan semakin mudah dicapai yang pada akhirnya akan menciptakan hubungan yang lebih progresif dan keuntungan yang lebih komparatif antara kedua belah pihak. Implementasi Poros JABAT ini dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap hubungan dan social benefit kedua negara di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, budaya, pariwisata, agama dan sebagainya.
Pertama, dibidang ekonomi Poros JABAT ini menjadi wadah yang aplikatif untuk mempertemukan para pengusaha kedua negara guna memperluas upaya sharing of information, knowledge and experience tentang potensi alam dan produk-produk unggulan masing-masing, dan mengingat bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusia kedua negara satu sama lain berbeda maka proses kerjasama akan lebih mudah terlaksana sebab akan muncul kondisi timbal-balik saling membutuhkan dan saling melengkapi antara keduanya. Forum-forum yang mempertemukan para pengusaha kedua negara ini nantinya dapat dilaksanakan secara intens dan berkala minimal sekali dalam setahun yang kemudian juga menjadi arena bagi para pengusaha untuk membahas dan memecahkan masalah-masalah perdagangan yang kemudian muncul. Pemerintah kedua negara dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator tanpa intervensi yang lebih jauh dan sedapat mungkin memberikan kemudahan-kemudahan bagi para pengusaha kedua negara dengan regulasi yang lebih mengutamakan kemudahan akses perdagangan seperti pembebasan visa berkunjung yang telah disepakati selama ini. Disisi lain konsep ini juga mendukung upaya diversifikasi pasar ekspor Indonesia mengingat kerjasama konvensional antara Indonesia dengan negara-negara maju seperti Amerika, Uni Eropa atau China selama ini terbukti lebih sering menjerat Indonesia dalam hubungan yang tidak saling menguntungkan, dimana Indonesia sangat sering keluar sebagai pihak yang dirugikan. Banyak pengamat yang melihat relevansi dari solusi ini mengingat posisi Maroko yang strategis yang terletak diantara Laut Mediterania dan Samudera Atlantik yang menjadi pintu gerbang tiga kawasan yaitu Afrika­-yang selama ini masih kurang dijamah oleh produk ekspor Indonesia- Timur Tengah dan Eropa. Ditambah lagi Perjanjian Perdagangan Bebas yang telah dijalin oleh Maroko dengan negara-negara di tiga kawasan tersebut maka ini akan mempermudah serta memperluas penyebaran dan transfer produk-produk Indonesia ke negara-negara tersebut.
Dibidang Pendidikan, Poros JABAT ini akan menjadi pusat lalu lintas dunia pendidikan antar kedua negara. Ketika rakyat keduanya semakin intens menjalin kontak dan interaksi maka dengan sendirinya akan timbul berbagai inisiatif untuk membentuk forum-forum pendidikan, seminar, transfer ilmu pengetahuan, pertukaran pelajar dan mahasiswa, berbagai diskusi di berbagai bidang keilmuan dan sebagainya, yang bukan hanya sebatas di bidang ilmu agama tentunya.
Sektor selanjutnya yang sangat potensial yaitu kebudayaan. Kebudayaan adalah ciri suatu bangsa. Kebudayaan yang ada di dalam suatu negara adalah cerminan masyarakat yang ada di dalamnya. Dengan mengenal budaya bangsa tersebut maka paling tidak kita telah mengenal karakter dan sifat masyarakatnya, yang kemudian dapat membawa kita untuk lebih memahami dan lebih mudah berbaur dengan rakyat negara tersebut.  Lebih dari setengah abad hubungan RI-Maroko telah terbina, namun sebagian besar rakyat Maroko hanya mengenal Indonesia dengan rue (jalan) Soekarno atau rue Bandoeng dan rue Jakarta yang ada di negaranya saja , begitupun sebaliknya rakyat di Indonesia hanya mengenal Maroko dengan Jalan Casablanca yang ada di Jakarta. Patut disayangkan rakyat kedua ”saudara” ini belum saling mengenal lebih jauh, padahal mereka memiliki hubungan keterikatan yang begitu kuat. Pengenalan budaya satu sama lain merupakan solusi yang efektif untuk merekatkan hubungan rakyat kedua negara. Dan dengan aplikasi konsep Poros JABAT ini maka akan mendorong upaya sharing informasi tentang budaya dan kesenian yang ada di negara mereka masing-masing. Rakyat kedua negara tidak akan mengalami kesulitan dalam menerima kedua hal tersebut, sebab budaya dan kesenian yang berasal dari kedua negara ini memiliki banyak kesamaan yang bernuansa islami, yang berisi nilai-nilai yang arief dan bijaksana sehingga dapat menjadi tuntunan bagi kehidupan rakyat kedua negara.
Selanjutnya dari sektor pariwisata. Sektor ini juga masih sangat kurang dijajaki dalam hubungan kerjasama RI dan Maroko, padahal obyek-obyek wisata di kedua negara sangat potensial untuk dikunjungi. Maroko yang dikenal dengan julukan ”Tanah Tuhan” ini adalah salah satu pusat tujuan wisatawan Eropa dan Timur Tengah. Potensi alam Maroko sangatlah indah seperti pemandangan Pegunungan Atlas, laut Mediterania yang begitu indah dan menyimpan peradaban prasejarah seperti Ait Bin Haddou yang sangat megah dan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia, serta berbagai hasil peradaban Islam lainnya yang sangat cocok untuk menjadi tujuan wisata rohani. Sedangkan Indonesia yang terkenal dengan julukan ”Zamrud Khatulistiwa” tidak kalah indahnya dengan Maroko, siapa yang tidak kenal dengan Bali yang telah mendunia itu? Atau keindahan Raja Ampat, Pulau Komodo, Bunaken dan lainnya. Peluang untuk memaksimalkan potensi ini sangatlah besar jika, sekali lagi, sharing informasi tentang obyek-obyek wisata tersebut dilakukan secara lebih persuasif dan menyentuh langsung masyarakat kedua negara.
Sedangkan di bidang agama, dengan karakter pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat kedua negara yang memiliki banyak kesamaan maka ini akan lebih mengintensifkan berbagai dialog dan forum-forum pengembangan agama. Poros JABAT ini diharapkan bisa menjadi wadah yang efektif  yang mempertemukan tokoh-tokoh agama kedua negara untuk membahas dan mengatasi islamphobia yang merebak di dunia secara global akhir-akhir ini. Dengan bentuk hubungan seperti ini maka kedua negara diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam menciptakan peradaban Islam yang lebih harmonis dalam perkembangan dunia global sekarang dan di masa yang akan datang.
Sebuah ironi jika rakyat Maroko lebih mengenal Eropa dibandingkan saudaranya sendiri Indonesia. Sudah saatnya kita berhenti menjabat tangan mereka tetapi mulailah untuk memeluk mereka karena kita diikat oleh satu tali yang begitu kuat, akh Syaqiq.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar Disini..