Pages

Follow by Email

Kamis, 22 Maret 2012

(Kartulku) "Pemuda Dalam Bingkai Perang Dekadensi Moral 2012



Pemuda dalam Bingkai Perang Dekadensi Moral 2012

Kalau diamati sejarah dari bangsa ini, maka akan tampak jelas betapa beraninya anak-anak muda selama ini mencetuskan gagasan-gagasan baru dan orisinal untuk membangun bangsanya. Kaum muda juga tidak jarang tampil ke depan, mengambil inisiatif baru, dan menjadi aktivis yang dinamis dan militan, menciptakan prospek yang cemerlang bagi masa depan negaranya.
 
Dicermati berdasarkan periode setiap generasi kepemudaan, maka dapat dilihat bahwa setiap angkatan di setiap generasi memiliki bentuk dan fokus perjuangan yang berbeda-beda. Angkatan 1908 lebih banyak melakukan perintisan rasa dan semangat nasionalisme yang kemudian semakin dimatangkan pada momentum Sumpah Pemuda tahun 1928. Momen historis bagi para pemuda dalam merumuskan kesatuan dan persatuan, sehingga mampu memodali diri untuk terus mengusir penjajah yang selama ratusan tahun bercokol di negara kita. Cipratan darah di dinding-dinding bangunan tua di berbagai daerah menjadi saksi atas pengorbanan para pemuda, yang gagah berani mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Sementara angkatan 1945 lebih berorientasi pada semangat dan api revolusi. Angkatan 1966 terlibat pada pergulatan politik menentang PKI, sedangkan angkatan 70-an lebih banyak terlibat tentang wacana keadilan ekonomi politik.
 
Mencermati catatan historis tersebut, tampak bahwa sejarah kepemudaan itu dibangun diatas idealisme dan komitmen sosial kaum muda. Peran kaum muda sebetulnya merupakan terjemahan dari dinamika antara idealisme dan realitas sosial yang dihadapi. Di pundak pemuda terdapat bermacam-macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini karena mereka diharapkan dapat menjadi generasi penerus, yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, dan generasi yang harus melangsungkan estafet pembangunan secara terus-menerus.
Namun, sekarang rupanya momen bersejarah itu hanya ingatan tekstual yang terlampir pada lembaran buku–buku sejarah bangsa. Pemuda masa kini, yang hidup di tengah arus globalisasi banyak yang tidak bertahan dan hanyut terbawa arus gaya hidup amoral. Hedonisme dan kebarat-baratan akrab dengan kehidupan para pemuda. Bangga dengan budaya luar dan rasa gengsi dengan budaya lokal, adalah cikal bakal lahirnya pemuda yang kurang menghargai agama dan sejuta kearifan lokal bangsanya, hingga menimbulkan dekadensi (kemerosotan) moral yang luar biasa di kalangan pemuda saat ini. Rasa gengsi terhadap budaya bangsa ini merupakan sebuah problema yang tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mungkin bagi sebagian orang ini hanyalah sebuah masalah kecil, tapi sesungguhnya kehancuran budaya suatu bangsa dapat terjadi dimulai dengan masalah-masalah seperti ini. Ketika para generasi penerusnya tidak lagi bangga terhadap budaya mereka sendiri maka harapan untuk melestarikan budaya itu akan lenyap secara sendirinya. Sehingga akibatnya di masa depan bangsa ini akan kehilangan identitasnya dan hanya akan menjadi bangsa yang primitif dan tidak beradab.
Jika dulu para pemuda dengan penuh keyakinan, memegang senjata dengan kekhawatiran negara yang dicintainya dicuri oleh bangsa lain. Kini, pemuda tidak mempunyai pegangan apa-apa. Pendidikan sebagai asas pencetak karakter juga, bagi sebagian pemuda hanyalah formalitas, bukan urgensi kehidupan. Tingkat pendidikan Indonesia memang meningkat jika dibandingkan dengan zaman dulu, apalagi zaman penjajahan. Akan tetapi, kepintaran kaum muda saat ini, tidak dibarengi ketangguhan moral yang seharusnya terus meningkat. 
Dekadensi moral pemuda, sebagai anak bangsa adalah dampak dari tidak adanya pijakan terhadap nilai-nilai yang sarat teladan. Mengonsumsi narkoba dan miras menjadi hal yang biasa menurut sebagian kalangan pemuda. Mereka menganggap bahwa hal itu hanya keisengan semata. Pesta seks dan narkoba sering terngiang di telinga. Bahkan, hampir setiap hari, media melaporkan kejahatan amoral yang dilakukan pemuda di berbagai daerah di negeri ini.
Minuman keras dan narkoba telah mempengaruhi dan meracuni para pemuda sehingga masa depan mereka terkikis habis. Hidup modern yang dianut pemuda Indonesia, tidak dilandasi dengan nilai moral dan cenderung mengadopsi budaya negatif modernitas, menjerumuskannya ke lembah degradasi laku, di mana tidak akan ditemui lagi masa depan yang cerah. Pemuda yang tidak bisa menyaring budaya Barat dan arus modernitas akan menyebabkan dua arus itu sebagai ancaman bagi masa depannya. Padahal jika ia mampu memaknai modernitas, pasti ia akan menemukan kebaikan-kebaikan yang dikandungnya. Ancaman dekadensi moral pemuda terus menerus melanda bangsa ini. Pornoaksi dan pornografi seringkali menjadi tontonan umum, bahkan tuntunan. Efek yang ditimbulkan dari pornoaksi dan pornografi adalah lahirnya paham seks bebas. Televisi, internet, dan CD/DVD porno menayangkannya seolah tuntutan pasar. Sehingga, dampaknya pada pemuda, mereka banyak yang mengikuti gaya hidup tersebut. Tayangan gaya hidup negatif Barat terus menerus menyeret pemuda ke kandang modernitas dan mengikatnya, hingga mereka berkiblat pada laku lampah Barat yang tak beradab. Inilah racun yang sangat ditakuti mendegradasi kepribadian generasi muda bangsa ini. 
Ancaman dekadensi moral adalah permasalahan bangsa yang sangat menakutkan dan sangat berbahaya. Jika hal ini terus-menerus dibiarkan, maka akan mengakar di diri tiap pemuda, bahkan seluruh lapisan masyarakat akan terkena dampak krisis moral ini. Kelalaian dan keteledoran bangsa Indonesia dalam menjaring setiap budaya yang masuk ke negara ini, melahirkan dampak yang negatif dan merusak. Westernisasi yang dibiarkan, lama–kelamaan akan menghapus kebudayaan lokal yang penuh dengan kearifan hidup. Jika ancaman dekedensi moral tidak disikapi dengan serius, kita tidak akan jadi bangsa yang maju, tidak akan ada yang berteriak “merdeka” untuk membela tanah air ini. Mungkin korban pemuda yang mati karena minuman keras, narkoba, AIDS atau lainnya akan jadi pemandangan yang mengerikan setiap hari.
Di awal 2012 ini, sudah saatnya pemuda menabuh genderang perang terhadap dekadensi moral yang berlangsung selama ini. Perang yang akan sangat menentukan nasib bangsa ini dimasa depan. Jika pemuda kalah atau mengalah, maka hanya tinggal menunggu waktu saja untuk melihat negeri ini runtuh. Karena itu, wahai pemuda jangan pernah berani mengaku sebagai pemuda negeri ini jika kalian masih berkoar seperti burung, mengaku sebagai individu yang paling loyal bagi bangsa ini tapi kalian tidak pernah membuktikannya. Begitu memilukan bagi para pahlawan kemerdekaan yang telah berjuang demi kalian, melihat generasi yang sangat mereka harapkan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa, akhirnya kalah bahkan sebelum berperang. Mereka telah berkorban demi apa yang mereka impikan, demi secercah harapan akan nasib masa depan bangsa ini, dan cita-cita itu kini telah mereka sematkan di pundak para pemuda, karena mereka percaya kepada kalian.
Sadarlah, bahwa negeri ini adalah sebuah tanggungjawab yang harus dipikul berlandaskan amanah. Negeri ini butuh sosok-sosok pejuang yang rela berkorban demi menjaga amanah bangsa, bukan sosok penakut yang bertekuk lutut di bawah gempuran pengaruh Barat. Pemuda adalah generasi bangsa, penerus bangsa, pemertahan kibaran Sang Merah Putih untuk tetap berkibar dengan gagah. Yakinlah untuk memikul beban dan amanah ini bersama. Karena kalian satu, kalian saudara, kalian adalah Pemuda Indonesia.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Komentar Disini..